Angkatan II Pelatihan Budaya Di Kora-kora:

Lahirkan Komitmen Adat dan Ekonomi Rakyat


Laporan: Daniel Kaligis

 

Debur ombak menebar riak merontah-rontah di pantai Kora-kora. Dayu kemayu air laut menjilati pasir-pasir menyisahkan guratan-guratan indah yang tak dapat dibahasakan. Keindahannya memang tak pudar juga, bahkan jauh ketika Simon Kos, Gubernur Ternate, mendarat di Pantai ini untuk datang berunding dengan orang-orang Minahasa Tempo dulu.

Tanggal 24-26 Juni, di tepi pantai yang sama, Kora-kora, 20 orang dari 7 Sub entis di Minahasa terkumpul untuk melakukan perenungan selanjutnya merumuskan program aksi atas keterpurukan, Minahasa: Manusia, tanah dan sistem sosialnya.

Acara ini disebut, pelatihan pelatih identitas budaya Minahasa, yang diselenggarakan oleh 5 lembaga Minahasa, yakni; Persatuan Minahasa, Majelis Adat Minahasa, Yayasan Suara Nurani, Perpustakaan Minahasa dan ICRE Sumekolah.

Berlangsung di pantai Kora-kora, dua puluh orang kader Minahasa serius mengikuti materi-materi yang diberikan untuk membuka cakrawala berpikir terhadap urgensi persoalan orang Minahasa. Dengan sangat antusias pula, setiap sesi pelatihan para kader selalu aktif berpartisipasi dalam semangat kekeluargaan.

Bahkan dalam pelatihan yang dimotori oleh ICRES itu, dilahirkan 3 komitmen yang akan disosialisasikan kepada masyarakat Minahasa. Pertama, konsep perkawinan adat Minahasa yang benar, kedua, tentang tanah adat, ketiga, memperkuat ekonomi rakyat Minahasa. Hasil ini menurut, Dr. Bert Adriaan Supit juga penasehat di lima lembaga Minahasa itu merupakan hasil yang sangat menggembirakan. Ia bahkan berharap, kebangkitan Minahasa akan menjadi spirit untuk membangun kembali Indonesia yang sudah porak-poranda, sama seperti ketika Tou Minahasa dulu, seperti Sam Ratulangie cs, bersama-sama membangun Indonesia berdasarkan pluralitas suku-suku bangsa di Indonesia.

Cermin kebinekaan juga tampak dalam keluarga besar Minahasa yang datang pada acara pelatihan tersebut. ”Meskipun torang datang dari berbagaibagai sub entis, ada yang Kristen dan non Kristen, bahkan ada juga sub etnis Jawa dan Tionghoa, tapi kami merasa satu dalam semangat keminahasaan,”ujar Piter Wua, kader adat dari wanua Lowian, Kecamatan Tompaso Baru, Pakasaan Tountemboan. Juga diaminkan oleh beberapa pakasan yang hadir, seperti Tou Bawontehu, Tonsea, Tolour, Tonsawang dan Tou Ratahan juga para penyelenggara seperti Matulandi Supit, sekjen MAM, Fendy Parengkuan, sekjen Persatuan Minahasa, Jootje Kawengian, Koordinator Perpustakaan Minahasa, Octo Supit, Direktur YSN, dan Veldy Umbas, Direktur ICRES.

Seolah tidak ada lagi perbedaan, dan semua melebur menjadi satu dalam semangat Persatuan Minahasa. Apalagi saat hymne Persatuan Minahasa dinyanyikan, suasana langsung larut dalam kesyaduhan. Wajah-wajah penuh harap tertegun menatap kemalangan yang dialami Tou Minahasa dalam Indonesia. Walau semua kemudian bersepakat untuk memulai lagi menata semua kemunduran yang telah dialami.

Dalam lingkarang, 20 orang yang datang dari segala penjuru Minahasa itu bergandengan tangan, dengan tekad dan semangat mereka berseru, ”I yayat u santi.” Pekik gelora yang disambut dengan gelegar semangat untuk kembali membangun tanah Minahasa demi anak dan generasi penerus kita.(dax)

 

Make your own free website on Tripod.com