Make your own free website on Tripod.com

Transformasi Pemikiran Minahasa Melalui Pendidikan Alternatif

(SUMEKOLAH)

 

Abstract

Rendahnya tingkat pendapatan rakyat Minahasa akibat dari terbatasnya lapangan pekerjaan serta model ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat kecil ternyata menjadi sebab utama kenapa pendidikan di tanah Minahasa mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

 

Sejak tahun 1995, indeks pendidikan di Sulut terus mengalami kemerosotan. Di Sulawesi Utara, perserta pendidikan dasar (SD) terus menurun, tahun 1995 perserta pendidikan SD mencapai 345.582 murid dan mengalami fluktuasi menurun hingga tahun 2002 data BPS Sulut menunjukkan angka 238.866 murid.

 

Indikasi ini jelas sangat menggambarkan partisipasi pendidikan rakyat yang rendah dengan beberapa faktor yang tentu saling mempengaruhi, seperti pendapatan keluarga, lapangan pekerjaan yang sangat kurang dan bahkan tingginya biaya pendidikan.

 

Kondisi ini tentu tidaklah sehat dan malah buruk apalagi ketika Indonesia akan memasuki era globalisasi dengan sistem kompetisi yang keras. Di sisi lain, sistem pendidikan yang diberlakukan oleh departemen pendidikan negara Indonesia yang masih jauh dari orientasi kerja. Pola pendidikan yang “tahu sedikit tentang banyak hal” ini kemudian menyebabkan angkatan kerja kita tidak memiliki skill yang cukup untuk bersaing dalam kompetisi global.

 

Ini tentu menjadi keprihatinan kami, sehingga ke depan pola pendidikan harus dirubah dengan paradigma “tahu banyak tentang sedikit hal” di mana setiap orang mengarahkan perhatiannya kepada masalah khusus sehingga ia menjadi profesional dibidangnya. Sayangnya pendidikan formal kita masih berputar pada model pendidikan konvensional seperti itu.

 

ICRES kemudian hadir dengan paradigma yang berbeda. Dengan pola pendidikan andragogic, mengikuti daur belajar orang dewasa, ICRES menggagas pendidikan informal di komunitas-komunitas basis dengan kurikulum yang disusun secara bersama dan demokratis oleh partisipan pendidikan informal yang kami lakukan. Hal ini ternyata sangat membantu dan membuat para partisipan ini termotivasi untuk melakukan perubahan sosial di basis komunitas di mana  pendidikan alternatif itu kami laksanakan.

 

Hasilnya, peserta pendidikan dengan pendekatan andragogic serta berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat, para partisipan membentuk komunitas-komunitas belajar yang mana mereka secara rutin mendiskusikan problem-problem sosial yang terjadi, baik soal distribusi pengairan sawah, strategi pemasaran hasil pertanian, sampai pada model pemilihan kepada desa yang demokratis.

 

 

 

About Us

Institute for Community Research And Empowerment Sumekolah adalah lembaga pemberdayaan rakyat dengan fokus pada pendidikan alternatif berbasis pada komunitas kampung.

 

Visi dan Misi

Visi:

Transformasi sosial menuju masyarakat yang cerdas, bermoral, adil dan sejahtera.

Misi:

  1. Melakukan transformasi pemikiran dengan melakukan proses pencerahan berpikir menuju masyarakat yang kritis, bermoral dan sejahtera lewat pendidikan dan pelatihan yang bersifat partisipatif.
  2. Melakukan studi, penelitian dan penguatan masyarakat sipil yang kritis dan partisipatif dalam rangka mencapai masyarakat yang demokratis serta menghargai hak-hak asasi manusia.
  3. Menggali, mewarisi dan menggelorakan melalui pendidikan alternatif, nilai-nilai identitas kultural sesuai dengan ide dasar Sam Ratulangi, Si Tou Timou Tumou Tou.

 

Nama Kegiatan:

Sumekolah

 

Tempat:
Di setiap basis-basis komunitas Minahasa seperti Wanua-wanua di tanah Minahasa.

 

Bentuk kegiatan:

  1. Melakukan assesment terhadap kebutuhan objektif masyarakat untuk menjadi kurikulum komunitas setempat.
  2. Melakukan pelatihan pelatih untuk menjadi organizer basis yang bertanggungjawab untuk mengawal proses pendidikan alternatif.
  3. Pelatihan berbasis partisipatif dengan nara sumber yang sesuai dengan kebutuhan sesuai kurikulum yang sudah dirundingkan di basis komunitas.
  4. Evaluasi dan monitoring.

 

Pola pendekatan:
Dengan menggunakan budaya sebagai perekat dan kearifan lokal sebagai media utama bagi proses belajar. Hal ini diperlukan untuk memelihara spirit fellowship sebagai modal sosial (Social capital) bagi komunitas menjadi kreatif dan cerdas.

Target Masyarakat:

Adalah mereka yang memiliki motivasi untuk memperbaiki keadaan, baik dari unsur pamong desa, mahasiswa, ataupun tokoh agama. Yang kami latih setiap bulan menjadi organizer lokal sebagai 2 orang. Di Minahasa yang terdiri dari 9 sub etnis, atau yang lazim oleh banyak orang menyebutnya Pakasaan. Kami melatih 2 sampai 5 orang setiap pakasaan per bulan. Sehingga setiap tahun, diharapkan kami dapat melatih oganizer basis sebanyak 400 orang.

Expected Objective

  1. Agar terbentuk kelompok-kelompok diskusi dengan pola pendidikan luar sekolah/alternatif di tiap-tiap basis komunitas di sembilan sub etnis di tanah Minahasa.
  2. Munculnya organizer-organizer handal yang menjadi leading group bagi sosial changes untuk transformasi pemikiran di Minahasa.

 

Kebutuhan Program:

Komputerisasi untuk database

Staf lapangan

Staf office

Project Manager

Kertas dan alat tulis

 

Pelaksana:

Veldy Umbas (Kordinator)

Edwin Sanger

Daniel Kaligis

Fendy Nayoan

Deny Pinontoan

 

Penasehat Ahli:
Prof DR. AE Sinolungan SH

DR. Drs. Max Ruindungan SH

DR. Yong Ohoitimur MSC

Drs. E.P. Rumayar SH.

Dr. Bert Adrian Supit

Pdt. Audy Wuisang STh, Msi

Beni Matindas

Bert Supit

Prof DR. Waworuntu

 

Penutup

Sekarang ini kami sudah memasuki pelatihan organizer basis tahap yang ketiga. Pada saat yang sama kami juga sementara melakukan pendidikan alternatif untuk wilayah-wilayah yang organizernya telah kami latih pada TOT pertama dan kedua.

 

Besar harapan kami, pelatihan ini akan menjadi role model bagi transformasi sosial melalui pendidikan alternatif agar masyarakat Minahasa menjadi lebih cerda, kreatif dan mandiri dalam mengahadapi geliat jaman yang makin keras dan penuh tantangan. Makapulu Sama. God Bless.

 

Minahasa 19 Juni 2005

Veldy Umbas

Kordinator