Make your own free website on Tripod.com

ICRES Gelar Pelatihan Pelatih Revitalisasi Budaya Minahasa

 

 

Pantai Kora-kora yang indah nan menawan hati, menjadi saksi lahirnya sebuah semangat baru untuk menatap masa depan Tanah Minahasa. Di sana, Jumat 29 April sampai 1 Mei 2005 lalu, puluhan anak keturuan Toar Lumimuut ikhlas melupakan segala aktivitas rutinnya sehari-hari. Mereka memeras otak untuk memikirkan nasib tanah ini ke depan, lewat kegiatan Training of Trainers  (TOT) Nilai Kultur Minahasa untuk Demokrasi dan Demokratisasi.  “Ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap terkikisnya budaya Minahasa oleh kuatnya erosi modernisasi dan liberalisasi. Yayasan Suara Nurani (YSN) yang didukung oleh Majelis Adat Minahasa, Persatuan Minahasa, Institute Of Community Research And Empowerment Sumekolah (ICRES) dan Perpustakaan Minahasa AZE Wenas menfasilitasi kegiatan tersebut,” kata Sekretaris Jenderal Majelis Adat Minahasa, Matulandi Supit, SH.

Kurang lebih 20 peserta yang datang dari berbagai pakasaan dan sub etnis di tanah Toar Lumimuut hadir dalam kegiatan tersebut. TOT ini difokuskan pada usaha menggali kembali nilai-nilai kultur Tou Minahasa yang terancam musnah ditelan kegilaan zaman.

Menurut Direktur Pelaksana ICRES, Veldy Umbas, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk membangkitkan kembali nilai-nilai budaya yang hakiki sebagai modal sosial Tou Minahasa menapaki hari-hari Indonesia yang makin sulit dan suram.

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut antara lain Prof. AE. Sinolungan, Drs. Edison P. Rumajar, SH, Bert Supit (Sejarawan/budayawan), dr. Bert Adriaan Supit, Drs. Fendy Parengkuan, MA., Dr. Max Ruindu-ngan, Pdt Joce Kawengian dan Irvan Basri tokoh muda NU, yang khusus mem-bawakan materi teknik pengorganisasian rakyat. Para narasumber tersebut memperkaya wawasan peserta tentang Minahasa dari beragam perspektif.

Para peserta  yang hadir datang dari latar belakang yang beragam. Ada yang sebagai pendeta, hukum tua, seniman, mahasiswa, tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh muda. Mereka tampak antusias mengikuti acara per acara. Venli Massie, peserta asal Langowan mengatakan, kegiatan ini penting dalam rangka menggali kembali nilai-nilai kultur Minahasa yang oleh generasi muda mulai dilupakan. “Namun, saya sangat berharap, kegiatan semacam ini rutin digelar agar nantinya upaya untuk memajukan tanah Minahasa ini akan terus berlanjut,” kata Massie.

Bagi Ketua Presidium Majelis Adat Minahasa, Dr. Bert Adrian Supit, pelatihan ini bukan saja membangkitkan kesadaran kultural Tou Minahasa, tapi juga menjadi momen kebangkitan intelektualisme Tou Minahasa yang sekarang lebih banyak terjebak dalam pragmatisme politik yang cenderung korup dan tidak mempedulikan kondisi riil Tou Minahasa yang makin terpuruk. Lebih-lebih lagi, semangat Si Tou Timou Tumou Tou yang digagas Dr. Sam Ratulangie sudah mulai memudar dan dilupakan orang.  “Torang harus bangkit dan bersama-sama terlibat dalam menentukan masa depan Minahasa yang sangat torang cintai ini,”tutur Dr Supit penuh semangat dengan keprihatinan yang mendalam.

Sementara, Sandra Rondonuwu, STh., salah satu fasilitator dalam pelatihan ini, menjelaskan bahwa metode pembelajaran yang dipakai dalam pelatihan tersebut adalah metode yang sangat mengikuti daur belajar orang dewasa. “Pelatihan ini  memakai metode belajar pendekatan andragogik dan partisipatif. Dengan menggunakan metode ini, maka para peserta diajak untuk berpatisipasi aktif dalam setiap materi pembelajaran,” kata Sandra Rondonuwu yang juga aktivis perempuan itu.(deni)